Skip to main content
Membangun Desa Lewat Budaya: Dana Desa Dorong Tenun NTT Naik Kelas
Artikel ini telah tayang di situs Media Keuangan | MK+ dengan judul "Membangun Desa Lewat Budaya: Dana Desa Dorong Tenun NTT Naik Kelas

Tenun, Warisan Budaya yang Perlu Dijaga


Tenun tradisional dari Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai estetika tinggi dan sejarah panjang. Setiap motif yang ditenun tidak hanya mencerminkan keindahan, tetapi juga mengandung makna filosofis yang diwariskan turun-temurun. Di NTT, tenun hadir dalam berbagai motif khas seperti Buna, Sotis, dan Futus. Masing-masing motif memuat nilai budaya yang tinggi sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat. Tak heran jika tenun NTT kini mulai dilirik sebagai potensi unggulan dalam menggerakkan ekonomi desa.


 Namun, pengembangan industri tenun di daerah belum sepenuhnya optimal. Banyak pengrajin masih menghadapi tantangan dalam hal keterbatasan bahan baku, minimnya akses ke alat produksi modern, serta kurangnya pelatihan untuk meningkatkan kualitas dan inovasi produk. Selain itu, akses pasar yang terbatas membuat produk tenun sulit bersaing di skala nasional maupun global. Beberapa tantangan besar lainnya yaitu:


1.Kualitas produk yang belum konsisten,

2.Minimnya inovasi dan akses pasar,

3.Rendahnya minat generasi muda untuk melanjutkan tradisi ini.

Untuk menjawab tantangan tersebut, negara hadir melalui Dana Desa—bagian dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)—yang dapat digunakan untuk pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, termasuk industri tenun. 


Di sinilah Dana Desa hadir sebagai solusi strategis. Melalui alokasi Dana Desa, pemerintah mendorong pemberdayaan ekonomi berbasis potensi lokal, termasuk industri tenun tradisional. Dana ini digunakan untuk pengadaan bahan baku seperti benang, pengadaan alat tenun, pelatihan keterampilan, serta fasilitasi promosi melalui pameran, festival, dan pemasaran digital. Upaya ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing tenun lokal, sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.


Dengan pemanfaatan Dana Desa yang tepat sasaran, tenun NTT kini tak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga sumber penghidupan masyarakat desa. Industri tenun mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan UMKM, dan memperkuat kemandirian ekonomi desa dari akar rumput.

  Dana Desa Berkembang, Potensi Desa Makin Terbuka

Sejak disahkannya Undang-Undang Desa pada tahun 2014, desa-desa di seluruh Indonesia mulai menjalankan otonomi yang lebih luas, terutama dalam pengelolaan keuangan desa. Salah satu instrumen utama yang mendorong transformasi desa adalah Dana Desa. Dalam kurun waktu 2015 hingga 2024, pemerintah telah menyalurkan kurang lebih Rp610 triliun.


Dana Desa telah menjadi motor penggerak pembangunan infrastruktur, layanan dasar, hingga pengembangan potensi ekonomi lokal di berbagai pelosok nusantara. Memasuki tahun anggaran 2025, pemerintah mengarahkan Dana Desa untuk mendukung program-program yang lebih strategis dan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat desa. Fokus kebijakan Dana Desa tahun depan mencakup:


1.Pengembangan potensi desa seperti pariwisata, devisa, dan agrobisnis,

2.Kemandirian ekonomi desa melalui UMKM dan koperasi,

3.Pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal, termasuk kerajinan tenun.




Dana Desa untuk Industri Tenun NTT

Menurut data Direktorat Dana Desa Kemenkeu, total anggaran kegiatan terkait tenun dalam APBDes 2025 Provinsi NTT mencapai Rp5,74 miliar, atau 98,58% dari total anggaran program terkait. Dana ini terutama digunakan untuk pengembangan sarana dan prasarana UMKM tenun serta koperasi desa.


 “Dana Desa kini punya menu kegiatan untuk pengembangan usaha kecil, termasuk tenun. Tapi desa tetap punya diskresi untuk memilih prioritas sesuai potensi masing-masing,” jelas Kurnia, Ketua Tim Pengelolaan Dana Desa, Insentif, Otsus, dan Keistimewaan DJPK Kemenkeu.


Desa Repi, Bukti Nyata Dana Desa Mendukung Tenun

Di Desa Repi, Kecamatan Lombok Selatan, sekitar 90 persen warganya adalah penenun. Desa Repi juga menunjukkan konsistensi dalam pengalokasian anggaran untuk belanja tenun dari Dana Desa, dengan alokasi sekitar Rp124 juta pada tahun 2024 dan Rp12,8 juta pada tahun 2025. Tak hanya itu, Desa Repi juga sedang membangun Rest Area Pantai Repi di jalur Labuan Bajo - Waerebo untuk memperkuat potensi desa wisata.


“Berkat Dana Desa, kami bisa membuka akses ke Pantai Repi. Kami ingin tamu yang datang merasa aman dan nyaman,” ujar Alfrianus Wahono, Kepala Desa Repi.


Florida Sayuti, salah satu penenun Desa Repi, merasakan langsung manfaat Dana Desa. “Kami diberi benang untuk bahan baku tenun. Ini membantu ekonomi keluarga. Harapan kami, ke depan ada bantuan rumah tenun, alat tenun, dan juga promosi pemasaran,” ujarnya. 

Dukungan Pusat Lewat Program Kampung UMi dan Ekspor

Untuk memperkuat ekosistem tenun nasional, pemerintah pusat melalui Kementerian Keuangan mengintegrasikan berbagai program pendanaan dan pembinaan:


Program Kampung UMi Klaster Tenun oleh Pusat Investasi Pemerintah (PIP),

Dukungan ekspor melalui LPEI,

Pembiayaan mikro, pendampingan, hingga akses pasar global.

Saat ini, sebanyak empat rumah tenun telah berdiri di Kabupaten Manggarai Barat yaitu:


Rumah Tenun Puncak Waringin,

Rumah Tenun Baku Peduli,

Rumah Tenun Songke Laros, dan

Rumah Tenun Forlavivian.

Tenun bukan hanya kain, melainkan warisan dan sumber penghidupan. Dengan dukungan Dana Desa dan program strategis pemerintah, desa-desa di NTT bisa menjadi juara dalam menjaga tradisi sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Kini saatnya desa menenun asa—dengan negara sebagai penopangnya.


Artikel ini telah tayang di situs Media Keuangan | MK+ dengan judul "Membangun Desa Lewat Budaya: Dana Desa Dorong Tenun NTT Naik Kelas - Media Keuangan"

Lihat selengkapnya di sini: https://mediakeuangan.kemenkeu.go.id/article/show/membangun-desa-lewat-budaya-dana-desa-dorong-tenun-ntt-naik-kelas